manggester

Friday, October 7, 2011

Jangan Menjadi Gelas, Apabila Anda Mampu Menjadi Danau

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu nampak murung.

Kenapa kau selalu murung, nak?

Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?

Ke mana perginya wajah bersyukurmu? sang guru bertanya.

Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, jawab si murid.

Sang guru terkekeh. ? Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.

Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

Cuba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu, kata sang guru. Setelah itu cuba kau minum airnya sedikit.

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini menyeringai kerana meminum air masin.

Bagaimana rasanya? Tanya sang guru.

Masin, dan perutku jadi mual, jawab si murid dengan wajah yang masih menyeringai.

Sang guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang menyeringai kemasinan.

Sekarang kau ikut aku. Sang Guru membawa muridnya ke danau dekat tempat mereka. Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.?

Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa masin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa masin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu fikirnya.

Sekarang, cuba kau minum air danau itu, kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, sang guru bertanya kepadanya, Bagaimana rasanya??

Segar, segar sekali, kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan belakang tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.

Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa masin yang tersisa di mulutnya.

Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi??

Tidak sama sekali, kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sehingga puas.

Nak, kata sang guru setelah muridnya selesai minum. Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.?

Si murid terdiam, mendengarkan.

Tapi Nak, rasa masin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau….

Dan selalulah dapat mempunyai hati yang selalu dapat mengucap syukur untuk segala perkara yang terjadi dalam hidup kita.




4 comments:

Muhammad Farid said...

Perghhhh!!! Kiasan yg terbaek mangges... :)

manggosteen said...

@ Muhammad Farid: aku kopipes je..sama2 mendapat ilmu..

ainzoo said...

tarbaek :)... biar la kopiteh pun ,yg pnting, ble share info, pngajaran etc

manggosteen said...

@ ainzoo: ahhaa..betol3x..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails